NAMA:
MOCHAMAD RIZKI MUBAROK
KELAS:
XI MULTIMEDIA
TUGAS
BAHASA INDONESIA “ STRUKTUR TEKS CERPEN”
Kartu ATM
“Sekarang
pakai kartu ATM kalian!”, perintah Bu Nisa, guru Agama kami.ATM itu singkatan
dari Aku Tidak Menyontek. Untuk mendapat kartu itu kita harus mematuhi sebuah
peraturan, yaitu tidak menyontek. Kartu ATM dipakai saat ulangan dan saat
latihan. Tapi, aku tidak mempunyai kartu ATM, karena aku orangnya tidak pintar
dan malas belajar.
Akhirnya,
ulangan pun dimulai. Aku mengerjakan soal-soal itu. Tapi, nomor 1, 3, 4, 7 dan
9, aku kesulitan. Kulihat ke sampingku untuk bertanya. Sayangnya ia memakai
kartu ATM. Kulihat ke arah lain. Mereka juga memakai kartu ATM. Bu Nisa
tersenyum melihatku. Akhirnya, aku pun bertanya ke Varia dengan mengancam kalau
tidak jawab, ia tidak akan boleh pulang denganku. Tapi, ia menunjukkan kartu
ATMnya. Aku mulai merasa kesal. Aku pun menjawab soal itu dengan asal-asal.
Saat
Pulang…Aku langsung berlari ke mobil Ayah. Aku biarkan Varia mencariku. Biarin
aja dia mencariku. Siapa suruh ia tidak memberiku jawaban. Aku pun memasuki
mobil Ayah. Kak Fani, kakak perempuanku, sudah berada di dalam mobil.“Varia
mana, Len?”, tanya Ayah. “Mana aku tahu”, ucapku sambil melihat ke arah Ayah.
“Kita tunggu aja, ya”, kata Ayah.
Aku
benci mendengar Ayah berkata begitu. Kulihat Varia membuka pintu mobil dengan
muka pucat dan penuh dengan keringat.“Kamu kenapa tinggalin aku, Len?”, tanya
Varia. “Siapa suruh tadi kamu begitu”, ucapku dengan suara sedikit kasar.
“Varia, kamu pakai kartu ATM juga?”, tanya Kak Fani. “Iya, Kak”, jawab Varia.
“Kakak juga ada”, kata Kak Fani sambil menunjukkan kartu ATMnya. “Kartu ATM itu
apa?”, tanya Ayah.Kak Fani dan Varia menjelaskan kartu ATM kepada Ayah. Aku
hanya terduduk diam memandangi jendela. Setelah selesai menjelaskan, Ayah pun
mengerti.“Wah… Helen ada?”, tanya Ayah. “Nggak ada, Yah”, jawabku menundukkan
kepalaku. “Kamu tahu, gak, Len? Kalau ikut ATM, kita akan dapat kelebihan,
loh”, kata Varia sambil menyodorkan sebuah kertas. “Wah… Aku mau ikut, Var. Besok
aku daftar, deh sama Pak Stanlius. Kamu temeni aku, ya, Var”, ucapku tersenyum
setelah membaca kertas itu. “Ok”, kata Varia.
STRUKTUR
TEKS CERPEN “ KARTU ATM”
ABSTRAK
“Sekarang
pakai kartu ATM kalian!”, perintah Bu Nisa, guru Agama kami.ATM itu singkatan
dari Aku Tidak Menyontek. Untuk mendapat kartu itu kita harus mematuhi sebuah
peraturan, yaitu tidak menyontek. Kartu ATM dipakai saat ulangan dan saat
latihan. Tapi, aku tidak mempunyai kartu ATM, karena aku orangnya tidak pintar
dan malas belajar.
Akhirnya,
ulangan pun dimulai. Aku mengerjakan soal-soal itu. Tapi, nomor 1, 3, 4, 7 dan
9, aku kesulitan. Kulihat ke sampingku untuk bertanya. Sayangnya ia memakai
kartu ATM. Kulihat ke arah lain. Mereka juga memakai kartu ATM. Bu Nisa
tersenyum melihatku. Akhirnya, aku pun bertanya ke Varia dengan mengancam kalau
tidak jawab, ia tidak akan boleh pulang denganku. Tapi, ia menunjukkan kartu
ATMnya. Aku mulai merasa kesal. Aku pun menjawab soal itu dengan asal-asal.
ORIENTASI
Saat
Pulang…Aku langsung berlari ke mobil Ayah. Aku biarkan Varia mencariku. Biarin
aja dia mencariku. Siapa suruh ia tidak memberiku jawaban. Aku pun memasuki
mobil Ayah. Kak Fani, kakak perempuanku, sudah berada di dalam mobil.“Varia
mana, Len?”, tanya Ayah. “Mana aku tahu”, ucapku sambil melihat ke arah Ayah.
“Kita tunggu aja, ya”, kata Ayah.
KOMPLIKASI
Aku
benci mendengar Ayah berkata begitu. Kulihat Varia membuka pintu mobil dengan
muka pucat dan penuh dengan keringat.“Kamu kenapa tinggalin aku, Len?”, tanya
Varia. “Siapa suruh tadi kamu begitu”, ucapku dengan suara sedikit kasar.
“Varia, kamu pakai kartu ATM juga?”, tanya Kak Fani. “Iya, Kak”, jawab Varia.
“Kakak juga ada”, kata Kak Fani sambil menunjukkan kartu ATMnya. “Kartu ATM itu
apa?”, tanya Ayah.Kak Fani dan Varia menjelaskan kartu ATM kepada Ayah. Aku
hanya terduduk diam memandangi jendela. Setelah selesai menjelaskan, Ayah pun
mengerti.
EVALUASI
“Wah…
Helen ada?”, tanya Ayah. “Nggak ada, Yah”, jawabku menundukkan kepalaku.
RESOLUSI
“Kamu
tahu, gak, Len? Kalau ikut ATM, kita akan dapat kelebihan, loh”, kata Varia
sambil menyodorkan sebuah kertas. “Wah… Aku mau ikut, Var. Besok aku daftar,
deh sama Pak Stanlius.
KODA
Kamu
temeni aku, ya, Var”, ucapku tersenyum setelah membaca kertas itu. “Ok”, kata
Varia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar